Wednesday, January 11, 2012

First 2012: Family Refreshed

First post in 2012. Sedikit telat 11 hari untuk melakukan postingan pertama di tahun ini. Tapi daripada ga ada post sama sekali, kan?


Setelah melalui masa pengasingan bintin pengisolasian di suatu planet bernama Paiton, akhirnya gue pulang juga ke Jakarta hari Sabtu kemarin. Dan hari Minggunya langsung berlibur dengan keluarga. Ini merupakan liburan bareng keluarga pertama gue setelah entah kapan terakhir gue berlibur bareng mereka. Seringnya, gue selama ini justru lebih sering berlibur sama temen.

Walau mungkin emang ga bisa ketawa atau menggila kaya liburan sama temen-temen, tapi liburan bareng keluarga ini ga kalah serunya, terutama dengan tingkah aneh para keponakan gue yang kadang nyebelin tapi sekaligus juga menggelitik.

Salah satu contoh adalah keponakan gue yang kembar, Adam dan Dimas, masing-masing berumur 6 tahun, dua-duanya sangat bandel dan ga bisa dibilangin. Pernah suatu ketika lagi di hotel, posisi gue lagi cape berat, mereka berinisiatif bikin Milo sendiri dengan memakai pemanas air yang emang tersedia di dalam kamar. Selesai air mendidih, entah apa yang ada di pikiran mereka, mereka malah menuangkan Milo ke dalam cangkir berisi air teh, bukan ke dalam cangkir berisi air panas. Rasa lelah gue ngebuat gue antara pengen marah sekaligus pengen ketawa ngeliatnya. (Yang pada akhirnya justru gue malah ketawa)

Yah, dan bermacam lagi kejadian unik yang gue lalui bareng keluarga gue di liburan kemarin. Di situ gue sadar, betapa menyenangkannya keluarga gue. Walaupun terkadang menyebalkan, tapi kalo lagi duduk bareng, dan mengulang cerita menyebalkan itu lagi, kita semua justru ketawa.

Ah, sudahlah, saya bingung sebenernya mau post apa. Masih lelah juga baru nyampe rumah tadi sore, tapi secara psikis I'm fully refreshed!

Revolution 2012!

Saturday, December 31, 2011

(No) Fireworks For Me

Tinggal beberapa jam lagi tahun 2011 harus diganti secara paksa oleh tahun 2012. Di momen seperti ini akan muncul orang-orang sibuk. Entah sibuk nyiapin perayaan taun baru, sibuk tutup buku untuk pekerja keuangan, sibuk ngatur lalu lintas buat para polisi lalin, atau ada juga yang menyibukkan diri dengan mengumbar resolusi dan harapan untuk tahun 2012 di situs jeharing sosial.

Berbicara resolusi, seperti biasa gue tidak mengumbar dan justru ga mau repot mikirin resolusi. Gue ga mau rencana gue diliat orang, nanti kalo ide gue dicuri bisa bahaya (kepedean).

Menjelang tutup buku besar tahun 2011 yang (tampaknya) ga akan gue rayakan ini, gue ngeliat ke belakang kehidupan gue selama setaun ini. Apa yang udah gue perbuat dan apa yang udah gue dapat. Apakah seimbang?

Yah gue ga akan umbar, yang pasti tahun ini gue merasa sebagian percuma. Gue lewatin taun ini dengan merasa ga melakukan sesuatu yang signifikan. Terlalu stagnan. Dah gue cukup jengah dengan keadaan itu. Tapi di sisi positifnya tahun ini gue bertemu banyak teman baru lagi yang unik-unik, yang cukup lumayan ngebuat taun ini ada warna mejikuhibiniu sedikit.

Dari sisi perayaan pergantian tahun, tahun ini cukup berbeda. Dimana tahun-tahun sebelumnya gue selalu merayakan tahun api dengan orang dekat plus bunyi ledakan dan warna kembang api. Tahun ini ga akan ada orang dekat dan ga ada kembang api. Tapi yah mudah-mudahan sih tahun yang akan datang ga akan percuma seperti tahun ini. With possibly of January exit. (Lah, malah ngumbar harapan)

Happy new year, universe!


Sent from my BlackBerry®
powered by Sinyal Kuat INDOSAT

Thursday, November 24, 2011

Title what?

Banyak orang bilang hidup itu adalah pilihan. Semua yang terjadi pada diri kita saat ini, itu adalah hasil dari pilihan kita di masa lalu. Mungkin saat ini gue ga akan menulis ini kalo gue memilih untuk ga menyalakan laptop gue. Mungkin juga gue ga akan menyalakan laptop gue kalo aja gue memilih ga minta tolong si pengurus rumah tangga buat ngerestart modem. Atau, lebih jauh lagi, mungkin gue ga akan di Semarang saat ini kalo gue memilih untuk menolak tawaran pekerjaan gue saat ini, hampir 3 tahun yang lalu. Bottom line, semua pilihan kita di masa lalu memang adalah inputan kita ke alam semesta untuk membentuk skenario kehidupan kita.

Tapi, semua pilihan kita di masa lalu itu tentu ada konsekuensinya. Baik itu sesuatu yang baik dan menyenangkan, atau malah bisa menjadi sesuatu yang buruk dan tidak mengenakan. Karena itu, manusia seringkali berpikir akan seperti apa kehidupan di masa depan apabila mereka memilih keputusan a atau memilih keputusan b.

Ada manusia yang tidak mau ambil pusing, langsung saja memilih sesuai naluri mereka. Orang yang seperti ini cenderung percaya bahwa takdir memang sudah dituliskan. Ada juga manusia yang terlalu memusingkan keputusan yang akan diambil dengan memikirkan matang-matang apa yang akan dilakukan. Terkadang orang seperti ini terlalu lama berpikir, sampai akhirnya pilhan tersebut hilang dengan sendirinya, dan mereka mau tidak mau harus menjalani kehidupan yang sudah terlanjur terbawa arus. Lalu, ada juga orang-orang tersesat, yang percaya terhadap perkataan orang lain yang dianggap "pintar", atau biasa disebut dengan para peramal. Orang-orang yang percaya pada peramal seperti ini sebagian besar adalah orang yang tidak punya pendirian.

Tapi, apa pun yang terjadi di ke depannya, pasti ada sisi positif dan negatifnya. Mungkin saat ini gue merasakan periode buruk dari salah satu keputusan hidup gue. Tapi, kalo mau diliat sisi lain, gue bisa mengambil banyak sisi positifnya. Gue bisa nambah ilmu banyak, gue bisa nambah banyak temen, gue bisa jalan-jalan ke tempat yang belom gue liat sebelomnya. Walaupun memang tetap ada sisi buruknya yang membuat gue merasakan sangat-sangat tidak nyaman untuk saat ini.

Well, tapi gue kembali lagi ke sisi positif yang udah gue dapet. Semua hal positif dan yang menyenangkan gue dapet saat ini bisa gue jadiin bekal buat mengeliminir hal negatif yang sedang gue rasain saat ini. Dan di saat seperti ini, gue merasa bahwa gue udah ketemu ke persimpangan kehidupan gue selanjutnya. Gue harus menentukan keputusan yang harus gue ambil. Apakah keputusan a, atau keputusan b. Waktu terus memperpendek jarak gue dengan persimpangan itu. Gue harus segera mengambil keputusan.

Tuesday, October 25, 2011

Site Dementia

Ide dari tulisan ini pertama kali muncul tadi siang, saat gue sedang berbincang dengan seorang kolega melalui Gtalk. Pada percakapan tersebut, gue menyatakan bahwa kondisi psikis gue saat ini sedang tidak baik. Dari kantor gue, hanya gue yang ditugaskan ke Paiton. Dan sekarang sudah minggu ke-3 gue berada di sini.

Walau memang pada saat jam kerja, gue ketemu banyak orang di lingkungan kerja. Tapi begitu pas pulang sampe di guest house, semua berubah 180 derajat. Gue sendiri, hiburan hanya ada di TV atau dunia internet yang untungnya tersedia di guest house ini.

Space Dementia
Space Dementia (walaupun masih diperdebatkan sebagai sesuatu yang fiktif) adalah gangguan psikologis yang biasa terjadi oleh para astronot yang sedang berada di luar angkasa. Biasanya terjadi apabila astronot sudah cukup lama di luar angkasa dan melihat bumi yang penuh peradaban dapat membuat dirinya menjadi gila. Istilah Space Dementia sendiri pernah digunakan pada film Armageddon, yaitu pada saat karakter yang diperankan oleh Steve Buschemi mendadak menjadi "gila" dan menembakkan senapan mesin secara tidak beraturan. Selain itu, Space Dementia juga merupakan salah satu judul lagu dari band terkenal di Inggris, Muse.
CMIIW.

Lalu apa hubungannya Space Dementia dengan kondisi gue saat ini?

Di sini gue mungkin menggambarkan keadaan gue saat malam seperti ini, sendiri, hanya terhibur oleh televisi, internet, atau telekomunikasi verbal maupun non verbal melalui telepon genggam. Saat sedang sendiri seperti ini, apabila gue lagi ngebuka situs jejaring sosial via internet, baik itu twitter, facebook, maupun Google+, gue akan menjadi sedikit gila.



Gue merasa sedikit gila karena dari situ gue bisa melihat "peradaban" dimana gue berasal. Gue bisa melihat kegiatan orang-orang terdekat gue, namun mirisnya gue ga bisa terlibat secara langsung. Gue hanya bisa memberikan komentar via situs jejaring sosial tersebut. Keberadaan gue pada peradaban tersebut menjadi semu. Begitu juga sebaliknya, gue hanya mengikuti pada peradaban yang semu.

Mungkin memang dengan internet gue bisa tetap saling berhubungan dengan orang-orang terdekat. Tapi, bukankah sebagai manusia yang makhluk sosial tetap butuh berkomunikasi langsung dengan makhluk hidup lainnya? Sesama manusia secara umum, bersama orang-orang terdekat secara khususnya.

Keadaan gue yang seperti ini gue sebut sebagai Site Dementia. Dimana gue akan menjadi gila kalau terlalu lama berada di site, dan hanya bisa melihat peradaban dari sudut pandang yang semu.

Sunday, October 23, 2011

Galasin

Tadi siang, saat lagi enak-enaknya tiduran di sofa sambil nonton tv, di benak gue terlintas sebuah permainan yang sering gue mainin sama temen-temen SD dulu di sekolah. Permainan itu adalah Galasin, atau juga dikenal sebagai Galah Asin, atau ada juga yang mengenalnya dengan Gobak Sodor. (Iya, emang banyak namanya).

Apa sih itu Galasin atau Galah Asin atau Gobak Sodor?
(Biar ringkas, di tulisan ini akan gue tulis sebagai Galasin).

Galasin itu adalah sebuah permainan yang dilakukan di lapangan persegi panjang yang terbagi-bagi menjadi 6 kotak. Permainan ini dimainkan oleh dua tim. Di mana masing-masing tim umumnya terdiri dari 4 orang, dengan 1 orang sebagai ketua tim, atau mungkin biar keren kita sebut sebagai "kapten".

Lapangan Galasin


Melalui undian (yang terserah caranya bagaimana), salah satu tim akan bertugas sebagai penjaga yang berdiri di garis-garis horizontal. Kecuali kapten, dia memiliki kekuatan ekslusif dalam menjaga lapangannya, yaitu dia berhak juga berdiri di atas garis vertikal di tengah.

Tujuan permainan ini sih sederhana saja, tim yang tidak bertindak sebagai penjaga, (emm.. atau kita sebut mereka sebagai tim penyerang), harus melalui lapangan tersebut mulai dari garis awal sampai akhir, kemudian kembali ke garis awal lagi. Apabila salah seorang anggota dari tim penyerang berhasil melaluinya tanpa tersentuh oleh tim penjaga. Tim penyerang mendapat satu poin. (Kalau dulu gue main setiap finish pasti teriak "ASIIIINNNN!") *ketek lo asin*

Cara bermain Galasin


Namun, apabila kemudian di tengah penyerangan, tim penyerangan tersentuh oleh tim penjaga. Maka mereka akan bertukar posisi, tim penjaga menjadi tim penyerang, dan sebaliknya tim penyerang menjadi tim penjaga.

Sampai kapan permainan ini berhenti? Dulu sih gue sampe bel istirahat sekolah selesai.

Terus, kenapa tiba-tiba gue kepikiran ini?

Ini dimulai dari dua hari yang lalu di kafeteria kantor saat makan siang, gue berbincang dengan
seorang kolega. Pembicaraan tersebut mengenai permainan anak zaman sekarang yang kalau dipikir sudah tidak pernah lagi yang namanya main di luar. Coba ditanyakan, buat yang punya adek-adek atau keponakan atau anak yang masih SD. Kapan terakhir mereka main petak umpet? Kapan mereka keringetan main petak jongkok? Tau cara main benteng ga? Atau apa sih Galasin itu? Sedikit yang menjawab dengan apa yang kita harapkan.

Anak-anak zaman sekarang, berdasarkan pengalaman gue sebagai paman yang baik hati, sudah tidak mengenal lagi permainan di luar. Asik sendiri dengan permainan teknologi masa kini. Setiap ada acara keluarga kumpul di rumah gue, para keponakan sibuk dengan gadget masing-masing yang mana gue sendiri ga punya dengan gadget yang mereka miliki. Padahal umur mereka masih pada SD dan TK. Kecuali satu keponakan udah SMP, udah beda arah karena di pikirannya hanya ada Justin Bleber.

Gue sedikit miris ngeliat yang kaya gitu. Oke, mungkin orang tua mereka (yang notabene adalah kakak-kakak gue sendiri) bangga dan senang bisa membelikan anak-anaknya alat canggih untuk menghibur mereka. Tapi, sisi negatifnya adalah, anak-anak mereka jadi ga kenal dengan dunia luarnya. Ga ada lagi siang-siang panas bolong anak kecil cuek aja main di luar, entah main layangan, main petak umpet, main apa lah terserah. Yang penting permainan berkelompok dan ngeluarin keringet. Ga apa-apa deh mereka pada bau ketek, tapi yang penting otak kanan mereka juga harus bekerja, jangan hanya otak kiri. Mungkin baik kalau mereka memiliki daya analisa dan logika yang tinggi yang didapat dari permainan alat canggih, tapi jangan kesampingkan kemampuan untuk mengasah visi, spontanitas, maupun daya imajinasi yang bisa didapat dari permainan berkelompok.

Alangkah senangnya kalo lagi kumpul keluarga di rumah, yang lebih terdengar adalah teriakan "Asiiiiiinnn!!!" atau "Hooonnggg!", dibandingkan suara musik dan efek suara lainnya dari beberapa alat canggih.

Bagus out.